ETIKA MAKAN DAN MINUM

15 07 2007

MMINFO-PrBerupaya untuk mencari makanan yang halal. Alloh Shallallaahu alaihi wa Sallam berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.

Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Alloh, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.

Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.

Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “… dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).

Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan jika lupa menyebut nama Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).

Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Alloh dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).

Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).

Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).

Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.

Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.

Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.

Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)

Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).

(Sumber: Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan)

Media Muslim INFO Project | http://www.mediamuslim.info | Indonesia @ 1428 H / 2007 M


Aksi

Information

2 responses

9 02 2009
Oky Pahreisy

Asw. Etika Minumnya sepertinya kurang lengkap Mas. Ta’ bantu yo:

Untuk minum sambil berdiri hukumnya makruh, karena Nabi pernah melarangnya namun juga suatu ketika minum sambil berdiri. Dari Abi Hurairah r.a., dia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah sekali-kali salah seorang diantaramu minum sambil berdiri. Barangsiapa yang lupa, hendaklah ia memuntahkannya.” (H.R. Muslim) – Status hadits, tinggal ditakhrij, OK!

Dari Nazzal ia berkata, Ali r.a. datang menutu pintu ar-Rahbah, maka ia minum sambil berdiri, lalu ia berkata; “Sesungguhnya manusia membenci (tidak suka) minum sambil berdiri, sedangkan aku pernah melihat Nabi Saw. berbuat sebagaimana kalian melihatku berbuat hal ini (yaitu minum sambil berdiri.” (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: “Aku pernah menuangkan air untuk Rasulullah Saw. dari sumur Zamzam, maka beliau minum sambil berdiri. Dan (waktu) beliau meminta air itu ia sedang berada di Baitullah.” (H.R. Muslim)

Nah, karena ada tiga hadits yang berbeda hukum dari Imam Muslim, so… memang lebih baik minum sambil duduk, karena secara kesehatan lebih baik (Baca: “Super Health”, Hidup Sehat dari Sunnah Nabi Saw. bukunya ketinggalan di Bandung, sorry). Tapi kalau pun terpaksa (kondisional) untuk minum sambil berdiri, ya ora opo-opo toh. hehehe….

Sunnah lainnya adalah, meminum air tidak sekali tenggak habis. Maksimal tiga tegukan sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Anas r.a. sesungguhnya Rasulullah Saw bernah bernafas dalam bejana (gelas) tiga kali.

Tapi usahakan juga untuk tidak membuang CO2 (Karbon dioksida) melalui nafas ke dalam bejana/gelas, karena menurut kesehatan itu tidak/kurang baik. Sorry teori lengkapnya saya hilap deui euy… tos lami nteu maca buku na.

Minumlah dengan tangan kanan, karena tangan kiri diperuntukkan untuk bersih-bersih setelah buang air kecil dan besar (H.R. Bukhari).

Jika menghidangkan minuman, mulai bagikan ke arah kanan (H.R. Muslim dari Anas bin Malik r.a.)

Dalam menghidangkan makanan/minuman, disunnahkan mendoakan tamu/ orang yang diberi sajian dengan doa: Allahumma Barik Lahum Fima Rozaqtahum Waghfirlahum Warhamhum (H.R. Muslim dari Abdillah bin Busr r.a.)

Tuan rumah/yang memberi minum mendahulukan tamu untuk minum lebih dulu, setelah itu baru ia minum. Dari Abdillah bin Abi Aufa r.a. Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda: “Yang melayani minum suatu kaum (hendaklah) ia yang terakhir minum.” (H.R. Abu Daud)

Nah, itu tambahannya informasinya. All Hadits dikutip dari Etika Hidup Sorang Muslim karangan Aceng Zakaria, penerbit ibn azka press, Garut (2003).

Saya menambahkan karena, etika minum sering diremehkan dibanding etika makan dan porsinya jadi lebih sedikit ketika disandingkan dalam etika makan dan minum. Mohon dimaafkan dan harap dikoreksi jika ada yang kurang tepat. Terima kasih.

NB: Haram minum juga berlaku terhadap khomr (NAPZA) dalam segala jenis dan bentuknya, baik cair maupun padat. (Beer, Wishky, Brandy, Tequila, Sampanye, Topi Miring, Pil Koplo, Extacy, Shabu-Shabu, Heroin, Ganja, Tuak, Anggur Fermentasi, sekalipun alasannya untuk obat).

Syukron, afwan.

Oky (pahreisy@yahoo.com)

9 02 2009
Oky Pahreisy

Koreksi kata “menutu” dalam hadits tentang Ali r.a. dengan “menuju”. Afwan

Tinggalkan komentar